.

.

Latest Post

Belenggu Setan

Written By PKS PELALAWAN on Rabu, 25 Mei 2016 | Rabu, Mei 25, 2016



Diantara diskusi menarik setiap masuk bulan Ramadhan adalah status belenggu setan. Karena Rasulullah mengabarkan “Idza Jaa-a Ramadhan, futtihat abwaabul jannah, wa ghulliqat abwaabun naar, wa shuffidatusy syayaathiin”. Lalu sebagian orang sering berkata “Jika setan memang dibelenggu, mengapa selama bulan Ramadhan masih ada saja orang berbuat jahat? Kita bisa menjawabnya dengan beberapa hal berikut.

Pertama, Bisikan Dari Jauh

Setan punya banyak kemampuan khusus, diantaranya adalah mimbisiki hati dari kejauhan. Contoh mudah adalah pada kasus insiden buah khuldi. Saat itu, posisi setan sudah diusir dari surga karena sombong dan membangkang perintah Allah. Sedangkan posisi Nabi Adam ada di dalam surga. Meski demikian, setan masih mampu menggoda nabi Adam.

Jadi meski berada ditempat yang jauh dengan tangan dan kaki terbelenggu, setan masih bisa membisiki hati kita. Terlebih jika ada celah dihati yang secara khusus menjadi titik lemah dan jadi pintu masuk setan. Karena secara prinsip, manusia itu punya kelemahan dan setan akan masuk melalui pintu itu.

Dalam dunia pewayangan, ada Prabu Puntadewa atau yang kita kenal sebagai Yudistira. Disebutkan bahwa dia punya hati putih bersih (sifat mulia) hingga darahnya pun berwarna putih. Meski demikian, dia punya kegemaran suka bermain dadu. Dari sinilah, dia tergoda untuk bermain dadu hingga harus menyerahkan kerajaan Indraprasta kepada Prabu Duryudana dan menjalani hidup dipengasingan.

Begitulah, selama ada celah dihati yang bisa dimasuki setan, maka kemampuan menggoda masih tetap ada. Meski hanya lewat bisikan dari kejauhan.

Kedua, Sifat Magnetis

Saat belajar fisika di sekolah, kita tahu bahwa ada benda yang memiliki sifat magnetis. Maksudnya bisa dibuat magnet. Misalnya besi atau baja. Jika digosok secara terus menerus, maka besi atau baja tersebut tertular sifat magnet. Atau bahkan bisa pula berubah menjadi magnet.

Bisa jadi, hati juga memiliki sifat magnetis. Jika digosok dengan akhlaqul karimah, jika sering bersama dengan orang - orang shaleh, maka hati akan tertular sifat baik. Sebaliknya, jika digosok dengan akhlaqul madzmumah, jika sering bersama dengan orang - orang fasik, maka hati juga akan tertular sifat buruk.

Meski magnetnya sudah dijauhkan, tapi sifat yang sudah ditularkan masih ada. Terlebih jika magnetnya sudah berhasil menduplikasi diri kedalam benda tersebut. Disini, kita harus mawas diri siapa yang dijadikan teman. Karena pikiran, tindakan dan kebiasaan itu akan menular kepada kita. Meskipun mereka sudah pergi jauh atau sudah tiada.

Khathimah

Jelang bulan ramadhan, maka kita perlu melakukan tazkiyatun nafs dari akhlak tercela. Dengan menutup semua pintu hati yang berpotensi jadi sarana bisikan setan. Serta dari sifat dan kebiasaan yang berorientasi sifat tercela. Hanya dengan cara itu, kita bisa merasakan terbelenggunya setan dibulan ramadhan. Wallahu a’lam

Berkhidmat di Bulan Berkah

Written By PKS PELALAWAN on Kamis, 19 Mei 2016 | Kamis, Mei 19, 2016

...

Apa perbedaan amaliah kita dengan para ulama salaf? Kebiasaan salafus shaleh, jelang Ramadhan mereka menghentikan aktivitasnya, menutup kajian dan majelis fatwanya serta menyimpan kitabnya. Lalu mereka melakukan “uzlah ruhani” dengan dzikir, tilawah Qur’an dan amaliah Ramadhan lainnya. Tradisi ini masih berlaku dipesantren salaf, dimana mereka menyelenggarakan haflah akhirussanah di bulan sya’ban. Artinya, bulan Ramadhan libur dari aktivitas agar santrinya bisa fokus beribadah.

Sedangkan kita justru semakin sibuk di bulan Ramadhan. Banyak acara digelar, banyak majelis dibuka dan banyak kepanitiaan yang melibatkan diri kita. Belum di akhir Ramadhan, fokus terpecah ke pasar, mudik dan angpau. Sedikit banyak, hal ini mempengaruhi ibadah dan target amaliah Ramadhan yang kita canangkan. Jika kita memang harus sibuk dengan aktivitas, maka pastikan itu dalam kerangka berkhidmat agar tetap bernilai ibadah. Bagaimana bentuknya?

Pertama, Berkhidmat Memakmurkan Masjid

Dibulan Ramadhan, ada peningkatan iklim religiusitas kaum muslimin. Karenanya, masjid dan musholla menjadi makmur. Ukuran kemakmuran masjid dan musholla bukan diukur dari mewahnya bangunan atau melimpahnya snack ta’jil. Tapi diukur dari jumlah peserta shalat jama’ah serta tingginya aktivitas ibadah.

Jika aktivis dakwah lebih memilih ber-uzlah ruhani dan tidak memakmurkan masjid, niscaya semangat ibadah kaum muslimin tidak tersalurkan dan tidak terbimbing. Karena itu, mari kita berkhidmat memakmurkan masjid dengan menggiatkan jama’ah tadarus, jama’ah ta’lim, jama’ah dzikir, jama’ah i’tikaf dan lain sebagainya.

Kedua, Berkhidmat Melayani Ummat

Dibulan Ramadhan, ada semangat berbagi yang sedemikian tinggi dari kaum muslimin. Baik dengan sedekah, infaq, zakat fitrah dan zakat maal, hadiah dan bingkisan lebaran, ifthor bersama kaum dhuafa, wakaf al qur’an dll. Selain termotivasi oleh besarnya pahala, juga disebabkan membaiknya kondisi ekonomi dengan peningkatan omzet dan tunjangan hari raya.

Jika aktivis dakwah lebih memilih untuk ber-uzlah ruhani dan tidak melayani ummat, niscaya semangat berbagi kaum muslimin tidak terwadahi. Karena itu, mari kita berkhidmah melayani kaum muslimin baik sebagai relawan kemanusiaan, unit pengumpul dan penyalur maupun sebagai amil zakat.

Khatimah

Jika dilihat dari amalnya, tentu fardhu ’ain lebih utama ketimbang fardhu kifayah. Namun jika dilihat dari orangnya, tentu fardhu kifayah lebih tinggi ketimbang fardhu ’ain. Kenapa bisa begitu? Karena fardhu kifayah tidak dilakukan oleh semua orang, sehingga pelaku amal fardhu kifayah memiliki kelebihan amal dibandingkan pelaku amal fardhu ’ain.

Di bulan Ramadhan, seluruh kaum muslimin berpuasa, shalat tarawih, tadarus dll. Tapi tidak semua berkesempatan untuk berkhidmah, baik memakmurkan masjid maupun melayani ummat. Maka mereka yang diberi kesempatan untuk berkhidmah dibulan berkah, nilainya lebih tinggi ketimvang yang tidak berkhidmah. Karrna mereka memiliki tambahan amalan diluar amalan standar kaum muslimin lainnya. Semoga kita termasuk digolongan tersebut. Wallohu a’lam.

Antara Shubuh dan Sya'ban

Written By PKS PELALAWAN on Minggu, 15 Mei 2016 | Minggu, Mei 15, 2016

Hari ini Abi bercerita tentang seorang laki-laki bernama Sya’ban.
Laki-laki ini selalu hadir tepat waktu di masjid Nabawi ketika shubuh, bahkan ia selalu berhasil men-tag tempat di shaf 1 paling kanan, sampai semua orang tahu bahwa itu adalah tempatnya Sya’ban.
Suatu Shubuh, Rasul SAW tidak menemukan Sya’ban di tempat biasanya. Singkat cerita, Rasul SAW diantar oleh para sahabat menuju rumah Sya’ban.
Dan fakta apa yang ditemukan?
Fakta pertama, rumah Sya’ban dengan Masjid Nabawi berjarak 3 jam perjalanan. Bukan dengan motor apalagi dengan mobil. Tapi jalan kaki di padang pasir! Aku pernah mengalami sendiri, berjalan di atas pasir itu dua kali lebih melelahkan dari pada di tanah biasa.
It means, untuk bisa tepat waktu shubuh berjamaah, minimal Sya’ban harus berangkat dari rumah jam 1 pagi!
Fakta selanjutnya mengapa Sya’ban tidak Shubuh berjamaah? Ia meninggal dunia. Sya’ban tidak shalat Shubuh berjamaah hanya karena satu alasan : telah meninggal dunia 😭😭😭
Kemudian, istri Sya’ban memberi tahu Rasul SAW, ketika suaminya meninggal, ada pesan yang belum ia pahami. Sya’ban mengatakan : Mengapa tidak lebih jauh? Mengapa bukan yang lebih baru? Mengapa tidak semuanya?
Rupanya, ketika sakaratul maut, Allah memperlihatkan pahala-pahala kebaikan Sya’ban.
Ia menyesal, mengapa jarak rumahnya dengan masjid Nabawi hanya segitu.
Ia juga menyesal, suatu ketika ia mendapati orang yang kedinginan di masjid Nabawi, ia memberikan baju yang lama sedangkan ia memakai dobel baju, yang satu baru dan yang satu lama.
Dan.. Suatu ketika, Ia bertemu dengan seorang yang kelaparan tetapi ia hanya membagi sebagian rotinya sedang yang sebagiannya lagi ia makan.
Cukuplah cerita tentang Sya’ban menampar pipi ini 😭😭😭 Semoga Allah SWT mengistiqomahkan kita semua agar selalu terpaut hatinya dengan masjid dan selalu bersemangat untuk memakmurkannya.

Pesan : Perempuan memang lebih utama shalat di rumah, tetapi kita juga berkewajiban untuk memastikan suami, ayah, dan saudara laki2 kita untuk shalat berjamaah di Masjid.
Allahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’bana wa ballighnaa Ramadhaan. Yaa Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.

Nasehat Menjelang Musim Ketaatan (Ramadhan)

Written By PKS PELALAWAN on Selasa, 10 Mei 2016 | Selasa, Mei 10, 2016



Syaikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar As-Syinqity hafidzahullah pernah ditanya :

"Wahai Syaikh.. Dengan amalan apa anda menasehati saya dalam menyongsong datangnya musim ketaatan...?"

Syaikh menjawab :
"Sebaik-baik amalan yang dapat dilakukan dalam menyongsong datangnya musim ketaatan adalah memperbanyak istighfar Sebab dosa akan menghalangi seseorang dari taufiq Allah (untuk melaksanakan ketaatan)"

Tidaklah hati seorang hamba selalu ber-istighfar melainkan ia akan disucikan :
Bila ia lemah, maka akan dikuatkan
Bila ia sakit, maka akan disembuhkan
Bila ia diuji, maka ujian itu akan diangkat darinya
Bila ia kalut, maka akan diberi petunjuk
Dan bila ia galau, maka akan diberi ketenangan

Istighfar merupakan benteng pengaman yang tersisa untuk kita (dari adzab Allah) sepeninggal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

"Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini, yaitu memperbanyak istighfar, maka Allah akan mempermudah rezekinya, memudahkan urusannya dan menjaga kekuatan jiwa dan raganya"

Maka apa lagi yang kau tunggu ...?
(Perbanyaklah istighfar...)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan :

"Bila engkau ingin berdo'a, sementara waktu begitu sempit, padahal di dalam dadamu dipenuhi oleh begitu banyak hajat (kebutuhan), maka jadikan seluruh isi do'amu berupa permohonan maaf kepada Allah. Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya"

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى وَجَهْلِى وَإِسْرَافِى فِى أَمْرِى وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى جِدِّى وَهَزْلِى وَخَطَئِى وَعَمْدِى وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِى

“Allahummaghfirlii khothii-atii, wa jahlii, wa isrofii fii amrii, wa maa anta a’lamu bihi minni. Allahummagh-firlii jiddi wa hazlii, wa khotho-i wa ‘amdii, wa kullu dzalika ‘indii”

Ya Allah, ampunilah kesalahanku, kejahilanku, sikapku yang melampaui batas dalam urusanku dan segala hal yang Engkau lebih mengetahui hal itu dari diriku.

Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan yang kuperbuat tatkala serius maupun saat bercanda dan ampunilah pula kesalahanku saat aku tidak sengaja maupn sengaja, ampunilah segala kesalahan yang kulakukan

Allahumma Aamiin

Baarakallahu fiikum.

Kaidah Rihlah : Catatan Isra Mi’raj


Jika ada orang yang sangat membutuhkan rihlah dan tamasya, pasti para dai dan aktivis dakwah adalah salah satunya. Mereka harus tersenyum dan bersemangat dihadapan jama’ahnya, tak peduli banyaknya masalah yang tengah dihadapi. Mereka harus tegar, sabar dan ikhlas tak peduli dompetnya kering kerontang. Karena mereka adalah orang - orang yang telah berikrar “Wa maa min ajriya illaa ‘alallaah”.

Dai juga manusia, sesekali butuh rihlah untuk menyegarkan suasana jiwa. Jika memang harus rihlah, maka contohlah model rihlah dari rasulullah. Dari peristiwa Isra Mi‘raj kita mendapatkan beberapa kaidah rihlah bagi seorang muslim, yakni :

Pertama, Dari Masjid Ke Masjid

Rasulullah berangkat Isra “Minal masjidil haram ilal masjidil aqsha”. Dari masjid yang pertama kali dibangun (oleh nabi Ibrahim), ke masjid yang kedua yg dibangun (oleh Nabi Ya’qub). Masjid sendiri adalah tempat yang paling disukai oleh rasulullah. Saat mau safar beliau berangkat dari masjid, pulangnya pun ke masjid terlebih dulu sebelum pulang ke rumah. 

Suatu ketika, Ali bin Abu Thalib ra tengah bertengkar dengan istrinya. Maka beliau pun menuju ke masjid dan tidur di dalamnya. Saat didapati oleh rasulullah dengan punggung penuh debu tanah, maka Ali dipanggil dengan nama “Abu Thurab”. Ali bin Abu Thalib berkata, itulah nama panggilan yang paling disukainya, semata - mata karena rasulullah yang memanggilnya demikian.

Kesimpulannya, masjid menjadi tempat favorit orang beriman, baik dalam kondisi bahagia  dan ingin beribadah, maupun sedih dan butuh hiburan. Sedangkan orang - orang fasik, mereka cenderung senang ke tempat hiburan (diskotik dll), baik dalam kondisi senang maupun bete. Jika saat ini antum tengah berlibur, jangan lupa mengagendakan untuk mendatangi masjid. Utamanya masjid bersejarah, masjid agung, masjid kuno atau kalau perlu masjid yang tidak dikenal yang terpencil ditengah sawah.

Kedua, Bertemu Rekan Seperjuangan

Rasulullah ditemani oleh malaikat dan bertemu dengan ruh para nabi, baik di Masjid Al Aqsha maupun dilangit. Satu riwayat menjelaskan mereka shalat berjama’ah di Al Aqsha dan rasulullah menjadi imamnya. Dilangit, mereka saling berbalas salam dan memberi nasihat atas suatu amalan. Sebagaimana nasihat Nabi Musa kepada Rasulullah tentang amalan shalat.

Jika hati mulai suntuk dan kepala mulai penat, maka sudah saatnya kita melakukan amalan - amalan yang mendatangkan malaikat. Yap benar, kita bisa mengundang malaikat ke rumah kita, khususnya malaikat rahmat. Tilawah qur’an, dzikir dll adalah amalan yang mengundang malaikat. Jika yang datang malaikat, maka hati menjadi nyaman, tenang dan tumbuh semangat beramal. Sebagaimana rasulullah setelah didatangi oleh malaikat Jibril, maka beliau semakin dermawan bahkan melebihi angin yang berhembus.

Sedangkan orang - orang fasik, dikala marah, suntuk dan feeling blue kadang bukan mengundang malaikat rahmat tapi malaikat pembawa azab. Atau malah mengundang malaikat maut. Yakni dengan menumpuk dosa dan maksiat sebagai upaya untuk lari dari kenyataan hidup. Mulai dari khamr hingga narkoba, yang seringkali berujung pada kematian.

Demikian pula bertemu dengan rekan sejawat dan seperjuangan, saling berwasiat khususnya kebaikan dan taqwa. Bertemu dengan mereka membuat kita “tidak merasa berjuang sendiri”. Karena ditempat lain ternyata banyak pula yang cobaannya lebih berat, pengorbanannya lebih besar dan keikhlasannya dalam berjuang lebih tinggi. Kita pun bisa menimba ilmu dan pengalaman dari mereka.

Jika saat ini antum tengah berwisata, jangan lupa untuk mengunjungi sahabat lama sesama aktivis dakwah, kyai dan ustadz serta para habaib dan ulama. Kunjungi pula panti asuhan, ma’had dan pondok pesantren yang mereka bina. Jangan lupa, mintalah ilmu, nasehat, wasiat dan doa dari mereka. Jika antum belum berkeluarga, boleh sekalian minta agar dijodohkan dengan anaknya atau santrinya. He..9x.

Ketiga, Mengambil Ibrah

Rasulullah sempat melihat isi surga dan neraka. Melihat bagaimana kenikmatan dan siksaan didalamnya serta amalan dan dosa apa yang membuat manusia masuk ke dalamnya.

Bagi sebagian kalangan, inilah dalil bahwa surga dan neraka sudah diciptakan. Karena dulu sudah pernah dimasuki oleh Nabi Adam dan Rasulullah. Ini penting untuk dipahami, karena adapula sebagian ulama yang berpendapat bahwa surga dan neraka yang hakiki saat ini belum diciptakan. Tapi diciptakan nanti setelah hari kiamat. 

Bukan berarti kita harus tamasya ke mall dan penjara sebagaimana manifestasi surga dan neraka dunia. Tapi maksudnya, kita harus mampu mengambil ibrah atas setiap tempat yang kita kunjungi. Sehingga memiliki bekas yang positif, baik untuk meningkatkan amalan maupun menjauhi dosa. Alhasil, tamasya bukan sekedar me-refresh kondisi psikis tapi juga men-charge semangat beramal.

Khatimah

Pasca Isra Mi‘raj, rasulullah semakin kuat dan tangguh. Sejarah mencatat, pasca Isra Mi‘raj lah rasulullah mulai intensif “keluar kandang” dalam dakwah. Meski dakwah ke Thaif sebelumnya berakhir pilu, namun beliau bersemangat untuk membangun basis pergerakan di Madinah. Disanalah kelak Allah memberikan kemenangan dan kejayaan.

Bisa jadi, setelah rihlah kita memiliki baru tentang metode dakwah yang akan kita tempuh, wilayah baru yang akan kita sentuh maupun rekan - rekan baru yang akan membersamai. Inilah diantara esensi tamasya rasulullah melalui sarana Isra Mi’raj. Semoga inipula hal positif yang bisa kita petik pasca libur panjang dipekan ini. Amin.

Merenungi Perintah Shalat : Catatan Isra Mi‘raj



Salah satu point penting yang dibahas dalam pengajian Isra Mi‘raj adalah perintah shalat. Inilah salah satu oleh - oleh dari peristiwa Isra Mi‘raj selain ziarah ke Masjid Al Aqsha, bertemu dengan para nabi, melihat isi surga dan neraka dan menghadap Allah di ‘Arsy. Ada beberapa pelajaran berharga yang layak kita renungi. Diantaranya :

Pertama, Syari’at Terdahulu

Setiap kali berbicara tentang syariat terdahulu, biasanya kita langsung menyebut puasa. Hal ini bisa dimaklumi karena perintah puasa memang menyebutkan hal demikian, yakni sudah diwajibkan kepada kaum sebelum kita. Padahal, ada banyak syari‘at terdahulu yang kita warisi. Seperti qurban, haji, rajam, zakat, sunat, hijrah dll, termasuk diantaranya adalah syari’at shalat.

Nabi Ibrahim dan Ismail diperintahkan untuk mendirikan Baitullah, tentu saja digunakan untuk shalat (ruku‘, sujud). Nabi Ya’qub mendirikan Baitul Maqdis, sebagai majid kedua yang didirikan diatas bumi tentu dengan maksud yang sama. Nabi Sulaiman merenovasi Baitu Maqdis, buat apa lagi kalau bukan untuk shalat? Nabi Musa saat diangkat menjadi nabi di lembah Thuwa langsung diperintah “Wa aqimish shalata li dzikrii”. Dalam hadits tentang Isra Mi‘raj, justru Nabi Musa lah yang menyarankan agar meminta keringanan kewajiban shalat, hingga akhirnya kita hanya diwajibkan sehalat 5 kali sehari, bukan 50 kali sebagaimana perintah awal.

Nabi Zakaria berdoa minta keturunan di dalam mihrab, salah satu ruang disudut masjid. Nabi Isa sejak bayi berkata “Wa aushooni bis sholaati waz zakaati maa dumtu hayya”. Dalam bukunya yang berjudul “Islam Dihujat”, Hj Irnene Handono menjelaskan panjang lebar tentang gerakan - gerakan nabi Isa dalam beribadah di dalam Injil, yang sangat identik dengan gerakan shalat. Jadi, shalat adalah syari’at yang juga sudah diturunkan kepada nabi dan kaum terdahulu.

Kedua, Dimana Saja Kapan Saja

Umat islam mendapatkan kemudahan dari Allah, yakni bumi disucikan sebagai tempat sujud (shalat), kecuali diatas kuburan atau tempat yang kotor. Karena itu, shalat sah dilaksanakan baik di masjid, musholla, surau, langgar, lapangan, hutan, jalan raya bahkan diatas ranjang/tempat tidur. Sedangkan pada syari’at terdahulu, ibadah hanya sah dan diterima jika dilakukan di rumah ibadahnya masing - masing.

Proses untuk melaksanakan shalat juga dipermudah. Tidak ada air untuk berwudhu, boleh bertayamum. Tidak kuat berdiri, bisa dengan duduk atau berbaring. Tidak ada baju yang bagus, bisa cukup dengan memakai sarung yang menutupi pusar hingga lutut. Ini standar minimalis terutama jika kita berada dalam kondisi tidak normal atau darurat. Artinya, apapun situasinya kita tetap tidak boleh meninggalkan shalat.

Ambil contoh situasi yang pelik : kita bekerja di kilang minyak, baju kotor terkena oli, berada jauh dari pemukiman penduduk dll. Dalam kondisi seperti ini, kita tetap bisa melaksanakan shalat dengan standar minimalis (tidak memakai baju). Tapi jika situasinya normal, tentu kita harus memenuhi standar fikih dan standar adab sekaligus. Yakni dengan memakai pakaian yang suci, baik, wangi dll.

Ketiga, Kewajiban Asasi

Salah satu kewajiban asasi kita sebagai manusia adalah melaksanakan shalat. Simbolisasinya pun sangat kuat. Yakni adzan dan iqamat yang dikumandangkan di telinga kita sesaat setelah lahir. Pesannya sangat jelas, yakni agar seumur hidup kita menjalankan shalat. Karena setelah adzan dan iqamat, memang harus diteruskan dengan melaksanakan shalat.

Saat meninggal, pada sebagian kalangan ada yang mengumandangkan adzan kepada jenazah sebelum diberangkatkan dari rumah duka. Ini pakainya qiyas, yakni sebagaimana ketika lahir dikumandangkan adzan dan iqamat maka pada saat meninggalpun demikian. Apakah ini qiyas yang kuat dan bisa diterima, itu lain pembahasan.

Demikian pula dengan kewajiban shalat yang hanya sah jika menghadap kiblat. Baitullah Ka’bah adalah kiblatnya umat Islam baik saat masih hidup maupun ketika sudah meninggal. Saat kita dikubur, maka kepala kita akan dihadapkan menghadap kiblat. Jika kita termasuk ahli kiblat, maka kepala kita akan tetap menghadap kiblat. Namun jika kita bukan ahli kiblat dan bahkan termasuk ahli maksiat, maka kepala kita akan dipalingkan dari menghadap kiblat, sesaat setelah selesai dikuburkan. Ibnu Mas’ud menyatakan demikian, khususnya bagi mereka yang ahli minum khamr.

Khatimah

Sesungguhnya perintah shalat sudah diwajibkan pada masa awal kenabian. Pagi dan sore, masing - masing 2 raka’at. Setelah turun surat Al Muzzammil, kewajiban shalat ditambah satu waktu lagi yakni shalat malam. Setelah berjalan selama 2 tahun, shalat malam diturunkan statusnya dari shalat wajib menjadi shalat sunat. Jadi sebelum Isra Mi’raj para shahabat sudah mengenal dan melaksanakan shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Isra Mi’raj menjadi titik point untuk melaksanakan shalat wajib 5 kali perhari, dengan jumlah total sebanyak 17 raka’at.

Perihal keutamaan shalat sudah jamak dibahas dibanyak majelis. Dalilnya melimpah ruah, baik dari Al Qur’an, Hadits maupun Atsar. Tugas kita sekarang adalah mendirikan shalat sepanjang hidup kita. Mari kita perbanyak doa sebagaimana doa yang pernah dipanjatkan oleh nabi Ibrahim “Rabbij’alni muqiimash shalaati, wa min dzurriyyatii, Rabbana wataqabbal du’aa. Amin.

Ada Orang Lain Di Tengah - Tengah Kita

Written By PKS PELALAWAN on Senin, 02 Mei 2016 | Senin, Mei 02, 2016


Fajar belum menyingsing ketika itu. Tiga orang laki-laki melangkah gagah menggapai takdir mereka. Senyum mereka lepas. Sorot mata mereka teduh, ada keyakinan dan kerinduan yang menggelora di sana. Mereka baru saja akan memulai sebuah kehidupan baru, kehidupan dari kehidupan yang sesungguhnya, hidupnya hidup; kehidupan akhirat sedetik setelah tiang gantungan menutup nafas mereka.

Sayyid Quthb, Yusuf Hawwas dan Abdul Fattah Ismail. Merekalah ketiga pahlawan itu, yang mengakhiri hidup di tiang gantungan, menjelang fajar hari Senin tanggal 29 Agustus 1966. Sebuah buku kehidupan telah berakhir dalam riwayat kefanaan dunia, tapi sebuah buku kehormatan telah dimulai dalam riwayat keabadian akhirat. Sebuah skenario kebatilan telah dirampungkan dengan sempurna, tapi sebuah skenario kepahlawanan baru saja dimulai dengan indahnya.

Itu peristiwa besar dalam sejarah harakah Islam yang kita catat dengan penuh kebanggaan, dan akan tetap kita kenang dengan penuh kebanggaan. Sebab darah para syuhada itulah yang sesungguhnya mengalirkan energi dalam tubuh harakah Islam, yang membuatnya sanggup bertahan di tengah berbagai macam cobaan dan penderitaan panjang yang menimpanya.

Lelaki yang menggantung Sayyid Quthb bersama kedua rekannya itu adalah Jamal Abdul Nasser. Lelaki yang disebut terakhir ini naik ke panggung kekuasaan Mesir setelah sukses melakukan kudeta militer pada 23 Juli 1952. Kudeta militer yang kemudian dikenal dengan Revolusi Juli itu dirancang melalui kerjasama antara militer dengan Ikhwanul Muslimin. Nasser sendiri, disamping merupakan perwira tinggi militer, juga merupakan seorang kader inti Ikhwan. Selama masa perencanaan dan pematangan revolusi, rumah Sayyid Quthb, yang juga dikenal sebagai pemikir kedua Ikhwan setelah Hasan Al-Banna, merupakan salah satu pusat pertemuan terpenting para tokoh perancang revolusi tersebut.

Dalam segala hal Sayyid Quthb adalah senior. Itu sebabnya Nasser selalu memanggilnya dengan sebutan “abang”. Setelah menjadi presiden, Nasser bahkan menawarkan jabatan apa pun yang diinginkan Sayyid Quthub. Tapi 14 tahun kemudian, Nasser pulalah yang menggantung seniornya, abangnya.

Pelajaran besar

Dalam sejarah pergerakan Islam, ada sebuah fakta yang terulang berkali-kali, bahwa sebagian besar musibah yang menimpa da’wah dan harakah selalu datang dari dalam harakah itu sendiri. Untuk sebagiannya, musibah itu datang dari shaf yang terlalu longgar, yang kemudian tersusupi dengan mudah.

Jangan pernah menyalahkan musuh jika mereka berhasil menyusupi shaf kita. Sebab penyusupan adalah pekerjaan yang wajar yang akan selalu dilakukan musuh. Kita juga akan selalu melakukan hal yang sama. Seperti dulu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melahirkan banyak tokoh intelijen yang dikenal dengan keahlian menyusup. Misalnya Huzaifah Ibnul Yaman dan Amru Bin ‘Ash. Tapi kalau sekarang malah shaf kita sendiri yang mengalami kebobolan. Tampaknya kita perlu belajar kembali.

Apakah shaf Rasulullah Saw sendiri tidak pernah disusupi? Dalam sebuah perang, penyusupan adalah keahlian inti tim intelijen. Orang-orang Yahudi dan munafiqin berkali-kali mencoba melakukan penyusupan ke dalam shaf Rasulullah. Tapi tidak pernah berhasil.

Begitu harakah Islam mulai membuka diri dengan masyarakat luas, masyarakat yang heterogen, maka mereka akan berhadapan dengan persoalan kontrol organisasi. Pengetatan dan pelonggaran berakar pada konsep harakah sendiri tentang mekanisme kontrol internalnya.

Keterbukaan adalah asas da’wah. Semua manusia mempunyai hak untuk dida’wahi, sama seperti mereka berhak juga untuk ikut berpartisipasi dalam da’wah. Jadi gerakan bawah tanah haruslah dianggap sebagai sebuah pengecualian, yang ditentukan oleh tuntutan kondisi lingkungan strategis da’wah.

Tapi di sinilah letak masalahnya; keterbukaan adalah tuntutan da’wah, tapi keterbukaan juga bisa membawa masalah. Salah satunya adalah penyusupan itu; terlalu ketat akan menutup ruang partisipasi dan rekrutmen, terlalu longgar akan membuka peluang penyusupan. Jadi pertanyaannya adalah bagaimana membangun sebuah organisasi da’wah yang terbuka, tapi tetap rapi dan terkontrol?

Sistem kontrol

Apakah yang harus kita kontrol dalam organisasi da’wah kita? Jawabannya adalah gagasan dan orang. Gagasan perlu dikontrol karena manhaj da’wah kita mengalami proses interaksi yang dinamis dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam organisasi dan pada lingkungan strategis. Prinsip-prinsip da’wah yang bersifat fundamental dan permanen, atau yang biasa disebut dengan tsawabit, dengan pikiran-pikiran yang bersifat variabel, atau yang biasa disebut dengan mutaghayyirat, mengalami proses-proses pengujian dan pembuktian yang rumit dan kompleks.

Benturan-benturan yang berkesinambungan dengan realitas melahirkan dinamika dalam pemikiran yang menjadi sumber kekayaan harakah. Tapi dinamika itu jugalah yang harus dikontrol. Kontrol bukanlah merupakan upaya penjegalan atas munculnya gagasan-gagasan baru. Kontrol dilakukan untuk memastikan bahwa proses kreativitas dan pengembangan pemikiran dalam da’wah berlangsung dengan panduan metodologi yang benar. Keluaran (output) yang kita harapkan adalah munculnya gagasan baru yang menjadi sumber kekayaan pemikiran yang mendinamisasi da’wah.

Ambillah contoh bagaimana, misalnya, gagasan tentang penggunaan kekerasan telah mendorong banyak harakah Islam terjebak dalam konflik berkepanjangan dengan penguasa dan masyarakat. Kekerasan bagi mereka adalah cara kilat untuk mengubah masyarakat atau melawan kemungkaran. Apakah munculnya gagasan itu merupakan proses dinamika pemikiran yang murni dari dalam atau ada kekuatan lain yang ‘mewahyukan’ pemikiran itu kepada harakah karena mereka memang menginginkan harakah berpikir dan bertindak begitu?

Kontrol atas orang dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada penyusup dalam organisasi da’wah. Hubungan personal dalam da’wah dilakukan atas dasar kepercayaan atau tsiqah; kepercayaan kepada aqidah, niat, fikrah, akhlak. Tapi kepercayaan itu bersifat subjektif, sedangkan manusia juga mengalami perubahan-perubahan besar di dalam dirinya. Perubahan-perubahan itulah yang perlu kita kontrol; dari saat seseorang menjadi objek da’wah, kemudian bergabung dengan da’wah hingga saat wafatnya.

Seseorang bisa dirancang sebagai penyusup ke dalam da’wah, tapi bisa juga direkrut oleh ‘orang lain’ justru setelah ia bergabung dengan da’wah. Proses rekrutmen bisa berlangsung melalui suatu rekayasa intelijen, tapi bisa juga terjadi secara natural melalui pergaulan sehari-hari. Dalam kondisi terakhir ini, seorang aktivis da’wah biasanya mengalami penyimpangan perilaku atau akhlak, larut dalam pergaulan, dan kemudian secara tidak sadar membawa ‘pesan’ orang lain tanpa sadar ke dalam da’wah.

Akhir kata, sistem proteksi gerakan da’wah harus dilakukan dengan dua cara: penguatan kesadaran manhajiah dan penguatan kesadaran intelijen. Kesadaran manhajiah akan memungkinkan kita mengontrol gagasan, sedangkan kesadaran intelijen memungkinkan kita mengontrol orang.

5 Solusi PKS Entaskan Masalah Pendidikan Nasional

PKS Pelalawan | Hari Pendidikan Nasional yang diperingati tiap 2 Mei selalu mengingatkan bangsa Indonesia jika membangun pendidikan nasional adalah amanat konstitusi.
Ketua Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) DPP PKS Fahmy Alaydroes menegaskan Pasal 31 ayat 3 UUD 1945 jelas mengamanatkan pemerintah untuk menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
Fahmy melanjutkan saat ini pendidikan nasional yang formal terwujud dan bentuk sekolah. Sekolah di Indonesia, papar Fahmy, saat ini terdiri dari 50 juta siswa dan 2,6 juta guru.
"Sistem ini merupakan sistem pendidikan terbesar ketiga di Asia dan bahkan terbesar keempat di dunia di belakang China, India dan Amerika Serikat," kata Fahmy di Gedung DPP PKS Jln TB Simatupang, Jakarta, Senin (2/5/2016).
Hanya saja, Fahmy mencatat, sampai kini sistem pendidikan nasional belum menemukan bentuknya yang efektif. Masih banyak masalah dan kekurangan.
Ia merinci kurikulum Pendidikan Nasional belum mewujud dengan baik, masih rumit dan ruwet. Sampai kini, Kurikulum Pendidikan Nasional masih belum jelas dan ajeg. Padahal, ujarnya, kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan. "Kurikulum mencerminkan falsafah hidup bangsa, ke arah mana dan bagaimana bentuk kehidupan," tegas Fahmy.
Selanjutnya faktor guru yang paling menentukan dalam hal baik atau tidaknya proses pendidikan, juga sarat masalah. Rata-rata kemampuan guru masih buruk. Hasil Uji Kompetensi Guru tahun 2015 menunjuk angka rata-rata 5,5. "Bagaimana mereka dapat mengajar dengan baik, kalau kompetensinya selemah itu?" ujar dia.
Kurikulum yang masih belum jelas dan kemampuam guru yang lemah tentu saja akan melahirkan wajah buram potret pendidikan nasional. Fahmy mencontohkan saat ini peringkat kemampuan sains, matematika dan membaca anak-anak Indonesia berada pada peringkat 10 terburuk di antara 76 negara di dunia. "Sebagaimana yang diukur oleh Organizational of Economic Country Development," ujar dia.
Melihat fakta dan realita Pendidikan Nasional kini, Fahmy mendorong pemerintah segera mengambil langkah taktis.
Pertama, merumuskan dan mendeklarasikan visi pembangunan Pendidikan Nasional yang berkelanjutan, setidaknya sampai 20 tahun ke depan. "Catatannya harus melibatkan semua stakeholders, dan menjadikannya visi bersama," ungkap Fahmy memberi solusi.
Kedua, menjadikan guru sebagai pilar utama peningkatan mutu pendidikan nasional. Caranya, memastikan ketersediaaan dan kebersediaan tenaga pendidik handal dan berintegritas. "Yang paling penting menjamin kehidupan dan kesejahteraan mereka," ungkap Solusi.
Ketiga, membangun kurikulum berjangka panjang dan berkelanjutan berlandaskan filsafat pembangun manusia Indonesia berdasarkan Agama, Pancasila, UUD 1945 sehingga terhindar dari kebijakan yang sporadis dan politis.
Keempat menghidupkan, mendukung dan memfasilitasi terbentuknya komunitas dan gerakan pendidikan di tengah masyarakat. Menjadikan mereka sebagai mitra pemerintah dalam usaha memajukan sistem pendidikan nasional.
"Terakhir mengendalikan dan melakukan pembinaan kepada seluruh media dan siaran televisi untuk mendukung terwujudnya sistem pendidikan nasional," ujar Fahmy.
Meski masih menyisakan masalah, Fahmy meminta seluruh elemen masyarakat bahu membahu mewujudkan gerakan pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa. "Dan akhirnya selamat Hari Pendidikan Nasional mari mendidik bangsa untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan berdaulat," tukas dia .

Markarius Anwar Terima Curhat Warga Bukit Gajah

Written By PKS PELALAWAN on Kamis, 28 April 2016 | Kamis, April 28, 2016

PKS Pelalawan | Warga Desa Bukit Gajah Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan antusias menyambut kehadiran anggota DPRD Riau dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Markarius Anwar dalam rangkaian kegiatan reses 1 Tahun 2016 yang dilaksanakan Senin 25/4/2016.

Beberapa warga curhat terkait akan dilaksanakannya replanting (peremajaan) perkebunan sawit mereka 3-4 tahun yang akan datang. Warga mengkhawatirkan pembiayaan untuk pelaksanaan replanting tersebut dan mata pencaharian mereka selama sawit belum menghasilkan nantinya.

Markarius Anwar menyampaikan akan meminta dinas terkait untuk segera mempersiapkan program untuk warga eks trans tersebut dan mensosialisasikannya ke masyarakat. Markarius juga mengajak warga desa untuk mempersiapkannya dari saat ini. Lahan pekarangan yang ada selama ini tidak produktif, perlu dioptimalkan pemanfaatannya. Beliau mencontohkan beberapa komoditi yang dapat dikembangkan dilahan 0,5 Ha dan memberikan hasil yang cukup besar, semisal tanaman jeruk nipis, ternak belut dan sebagainya.

Hadir dalam pertemuan tersebut ketua DPD PKS Pelalwan Sukaeni, SP dan perangkat desa. Dalam sambutannya Sukaeni menyampaikan bahwa PKS sudah melaunching Pusat Khidmat PKS dimana dalam program tersebut ada program untuk pembinaan kelompok petani dan nelayan. Sukaeni menjanjikan akan membuat pelatihan khusus tentang budidaya jeruk nipis dan beternak belut di Desa Bukit Gajah dengan mendatangkan pakarnya dari wilayah.

Tokoh masyarakat yang hadir yang diwakili oleh Taryam, SE menyampaikan terimakasih atas kehadiran anggota dewan Provinsi Markarius Anwar ke desa mereka dan siap untuk mengajak warga untuk ikut penbinaan dalam rangka pemanfaatan lahan pekarangan mereka yang belum produktif tersebut untuk menyambut replanting yang jadi kekhawatiran mereka saat ini.

Serunya Rihlah Penuh Ukhuwah Milad PKS 18

Written By Fathur Abu Amira on Selasa, 26 April 2016 | Selasa, April 26, 2016


PKS Pelalawan | Tahun ini Partai Keadilan Sejahtera (PKS) genap berusia 18 Tahun. Untuk itu PKS Pelalawan mengadakan Rihlah Ukhuwah. Ahad (24/4/16) bertempat di Danau Kajuid Kecamatan Langgam. Rangkaian acara yang dibuka langsung oleh Ketua Umum DPD PKS Pelalawan Sukaeni, SP.

Dalam sambutannya beliau mengatakan beberapa poin penting agenda rihlah ini. Yang pertama tempatnya di danau kajuid karena dapat dijangkau oleh seluruh DPC yang ada di Pelalawan, sekaligus mensupport pemerintah untuk mensosialisasikan danau kajuid sebagai daerah tujuan wisata, dimana sampai saat ini pemerintah Kabupaten Pelalawan masih terus melengkapi sarana dan prasarananya.

Kedua, Rihlah ini sebagai ajang silaturrahim yang penuh ukhuwah antar kader dan simpatisan PKS Pelalawan

Ketiga,acara seperti ini kedepannya akan dilakukan gilir di setiap DPC yang ada

Acara rihlah yang penuh ukhuwah ini dihadiri oleh ratusan peserta kader maupun simpatisan PKS Pelalawan dengan semangat dan antusias sampai akhir acara.


 
Support : Fathur Abu Amira | Hp 082381220265 | Email : media.pelalawan@gmail.com |
Copyright © 2013. PKS PELALAWAN - All Rights Reserved